Lellu’, Simbol Keagungan dalam Tradisi Sulawesi Selatan

14184544_570550673117965_2715372925601807420_nDalam tradisi masyarakat di Sulawesi Selatan dan Barat khususnya perhelatan acara ritual adat yang besar, terdapat sebuah alat penaung berbentuk persegi yang senantiasa digunakan sebagai pelengkap ritual yang dinamakan Lellu’. Lellu’ umumnya digunakan untuk menaungi Raja atau untuk menyambut tamu-tamu agung dalam acara adat tertentu.

Lellu’ sesungguhnya berfungsi sebagai sebuah payung. Pada umumnya payung berbentuk bundar dengan 1 tangkai, maka Lellu’ senantiasa berbentuk persegi 4 dengan tangkai 4, 6 hingga 8. Meskipun sama-sama berfungsi sebagai naungan, namun pada prinsifnya berbeda dari segi pemaknaan simbol. Demikian pula dengan penyebutannya dalam bahasa Bugis, payung bundar bertangkai 1 disebut sebagai “teddung” dan payung persegi tetap jua disebut “lellu’”.

Payung bundar bertangkai tunggal bagi masyarakat umum berfungsi sebagai naungan dari panas terik maupun hujan, Sedang Lellu’ yang fungsinya untuk menaungi seorang Raja maka disebut payung kebesaran atau “Teddung Lompo” dilengkapi dengan berbagai atribut dan warna menurut adat istiadat masing-masing. Fungsi dari “Lellu’” tak pernah berubah, ia senantiasa dipergunakan sebagai naungan bagi Raja/Ratu ataupun bangsawan menurut Wari Pangadeng (pranata adat) bagi setiap kerajaan di Sulawesi Selatan.

Menurut khazanah “Ade’ Maraja” (Adat Istiadat Istana) yang berlaku secara umum pada hampir seluruh Kerajaan di Sulawesi Selatan dan Barat, fungsi “teddung lompo” dan “lellu’” dapat dibedakan menurut prinsifnya, yaitu Teddung Lompo dipergunakan oleh Raja/Ratu untuk bepergian dan Lellu’ dipergunakan untuk menyambut Raja/Ratu yang datang dari bepergian.

Lellu’ yang digunakan untuk menyambut tamu agung memiliki 3 kategori, yakni Lellu’ 8 tangkai bagi para Balibocco (Raja/Ratu yang setara), Lellu’ 6 tangkai bagi Arung Palili (Raja/Ratu bawahan) dan Lellu’ 4 tangkai bagi Anakarung dan TomarajaE (bangsawan dan pemerintah). Namun terkadang Lellu’ dipakai keluar dari kompleks istana (Lalengbata) oleh Raja/Ratu, itu hanya untuk menaungi Raja/Ratu yang telah wafat menuju ke Mesjid untuk disembahyangkan kemudian dinaikkan ke UlE Bare’ (usungan besar berangka susun) menuju ke tempat persemayaman terakhirnya.

Pemegang tangkai lellu’ yang disebut sebagai “pakkatenni lellu’” dipilih dari kalangan “Anakarung Ribolang” (anak bangsawan penghuni Istana). Jika junjungan yang hendak dinaungi Lellu’ adalah seorang laki-laki, maka mereka juga berjenis kelamin laki-laki. Mereka mengenakan seragam Awi (kain putih) ataupun Sulara’ Gance’ (celana sebatas lutut) dengan dilapis tapong (kain sutera tipis berbentuk rok), Sima’ Tayya’ (gelang lengan) serta penutup kepala Songko’ Ceppa (kopiah berhias) berwarna putih. Terkecuali jika dalam suasana berduka untuk mengantar jazad Raja/Ratu menuju ke “ulE bare’”, para pakkatenni lellu’ itu mengenakan Songko’ Ceppa (semacam kopiah) berwarna dasar hitam. Pakkatenni Lellu’ pada peristiwa ini senantiasa adalah anak lelaki, meskipun junjungan yang wafat tersebut adalah perempuan. Demikian pula jika seorang junjungan adalah perempuan, maka para Pakkatenni Lellu’ mutlak adalah perempuan pula yang mengenakan busana serba putih.

Sumber : Tosessungriu
Foto-Foto :
Para Pakkatenni Lellu’ pada wafatnya TopapoataE Petta MatinroE Bintangna Datu/Pajung Luwu di LangkanaE-Palopo.

, , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *