ANALISIS: Agus AN, Si Lucky Man yang Lolos di Last Minute

KABARKAMI. EMPAT pasangan calon resmi mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel. Jika semuanya dinyatakan lolos, inilah pemilihan gubernur (pilgub) yang pertama kali meloloskan paslon perseorangan.

Munculnya paslon perseorangan tidak lepas dari tarik menarik dukungan parpol. Apalagi, dukungan parpol sangat dinamis jelang masa pendaftaran calon.

Hampir sebulan, dukungan partai politik, kecuali Golkar dan Nasdem, menjadi sangat liar. Para tim sukses saling klaim. Meski akhirnya, hanyalah Partai Gerindra dan PPP yang berlabuh ke paslon Agus Arifin Nu’mang dan Tanribali Lamo.

Perburuan parpol Agus-TBL, bisa disebut amat dramatis. Perjalanan kedua paslon ini menatap pilgub juga diwarai dengan jalan berliku. Mereka melalui perjuangan yang amat panjang untuk meyakinkan parpol pengusung.

Awalnya, banyak yang menduga, Agus-TBL sulit lolos mengingat parpol sudah sengat kekeh dengan dukungannya maisng-masing. Dikabarkan, Agus harus bolak-balik Makassar-Jakarta hanya untuk perburuan dukungan parpol ini.

Partai Gerindra menjadi sasaran utama perburuan Agus. Saat itu, Gerindra masih mendukung Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman yang akrab dengan tagline Prof Andalan.

Setelah Gerindra lepas dari Prof Andalan, Agus masih harus mencari parpol tambahan untuk menggenapkan syarat dukungan minimal 18 kursi DPRD. Ia pun berusaha untuk “memaksa” PAN ikut jejak Gerindra. Dengan harapan, jika PAN lepas dari Prof Andalan, maka PKS akan ikut serta dalam barisan pemenangan Agus-TBL.

Sayangnya, hingga hari pertama pendafatan, PAN tetap menyatakan berada di barisan Prof Andalan. Dengan demikian, gagasan untuk membawa Koalisi Pilpres dalam pilgub Sulsel menjadi gagal, degan tidak keluarnya PAN dan PKS.

Di hari kedua pendftaran, koalisi parpol pengusung Agus, belum mencapai syarat minimal pendaftatan. Baru ada Gerindra dan PBB.

Perburuan parpol berlanjut di saat masa pendafaran sudah memasuki last minute. Namun, bukan Agus AN jika tidak optimistis. Politisi santun ini yakin dirinya tetap maju menatap Pilgub Sulsel.

Satu-satunya harapan Agus, yakni mengambil PPP dari tangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar. Meski masih ada Partai Hanura juga di tangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar. Namun mengambil PPP, jauh lebih mudah ketimbang meraih Hanura. Sebab PPP hanya mendukung calon independen, dan tidak sebagai parpol pengusung.

Gayung pun bersambut, apalagi bagi PPP, mendukung independen, membuat elektabilitas partainya melorot. Inilah celah yang dimanfaatkan Agus.

Namun, hingga hari kedua pendaftaran, rekomendasi tak kunjung keluar. Ini lantaran munculnya perlawanan dari sejumlah elite PPP Sulsel yang tetap ingin berada di belakang IYL-Cakka.

Kabar yang beredar, Ketua Umum PPP Romy, bahkan harus menyiapkan siasat agar rekomendasi Agus diteken. Romy menyuruh Amir Uskara ke Makassae untuk mendampingi IYL mendaftar.

Setelah tiba di Makassar, sekitar pukul 03.00 Rabu lalu, barulah Romy meneken rekomendasi Agus. Namun, Agus tetap bertahan di Jakarta hingga hari terakhir pendafatran. Jadwal yang semula pukul 11.00 diundur ke sore hari mengingat Agus belum tiba di Makassar.

****

Kiprah politik Agus, memang selalu dibarengi dengan keberuntungan. Tidak heran, di kalangan orang dekatnya, ia dikenal sebagai “the lucky man”. Tidak banyak politisi yang selalu meraih keberuntungan di saat last minute.

Saat terpilih menjadi Ketua DPRD Sulsel, Agus juga bisa disebut beruntung. Sebab Ketua DPRD saat itu HM Amin Syam, terpilih menjadi Gubernur Sulsel berpasangan dengan Syahrul Yasin Limpo.

Bahkan saat menjadi Wakil Gubenur mendampingi Syahrul, semula nama Agus tidak menjadi prioritas Syahrul. Syahrul awalnya membidik Aziz Qahhar Mudzakkar. Namun, Aziz kala itu lebih memilih maju sebagai cagub berpasangan dengan Mubyl Handaling.

Lagi-lagi nama Agus muncul saat last minute ketika Amin Syam telah resmi berpasangan dengan Mansyur Ramli dan Aziz dengan Mubyl. Tidak ada pilihan bagi Syahrul untuk tidak memilih Agus.

Di periode kedua Syahrul, nama Agus juga muncul belakangan. Meski saat itu, Agus optimistis tetap dipilih Syahrul sebagai pendampingnya.

Akankah Si Lucky Man itu meraih keberuntungan menjadi pengendali Sulsel lima tahun ke depan? Masihkah sang dewi fortuna berpihak ke Agus AN? Kita tunggu 27 Juni mendatang.

(mukhramal azis)

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *