Bagaimana Pak Pos Melawan Jaman?

KABARKAMI. Dulu, PT Pos Indonesia (singkat saja Pak Pos, biar akrab) adalah perusahaan raksasa. Bagaimana tidak, jutaan surat, dokumen, barang, dan bahkan uang dikirim hanya melalui perusahaan plat merah tersebut.

Lain dulu lain sekarang, kini Pak Pos tergerus zaman. Kirim-kiriman surat berganti aplikasi gadget; kirim-kiriman barang berganti perusahaan swasta yang -dengan kekuatan teknologi dan logistiknya- lebih efisien dan efektif. Nama Pak Pos pun tenggelam dan mungkin ‘tak lagi dikenali generasi zaman now. Pak Pos lama terlena dengan posisinya sebagai pemain tunggal.

Mau tak mau, manajemen Pak Pos harus segera berbenah, mengejar ketertinggalan. Mereka harus bertransformasi mengikuti perkembangan jaman. Beberapa program pun dilakukan Manajemen Pak Pos. Yang pertama, peremajaan karyawan. “Mayoritas pekerja kami usianya di atas 45 tahun,” kata Gilarsi W. Setidjono, Direktur Utama Pak Pos, sebagaimana dikutip dari Bisnis Indonesia. Mereka rata-rata tidak melek teknologi. Makanya, pensiun dini menjadi jalan satu-satunya bagi mereka. “…60 % beban perusahaan adalah orang dan bisa tidak ditekan hanya jadi 40 %,” tambah Gilarsi.

Yang kedua, strategi jemput bola. Bisnis kirim-kiriman bergerak dinamis, tidak lagi statis. Pak Pos pun mulai berusaha menjemput kiriman dari pintu ke pintu, memanfaatkan aplikasi yang mereka rancang sendiri. Logistik juga dibenahi untuk menjaga kualitas kiriman agar lebih efisien dan efektif.

Meskipun perusahaan kiriman instan berjaya di kota-kota, semisal GoSend (Gojek) dan GrabExpress (Grab), tapi dengan program tersebut, Pak Pos berusaha tetap bersaing dengan perusahaan kiriman konvensional, seperti Tiki, JNE, dan J&T. Apakah Pak Pos dapat bertahan? Ataukah nasibnya akan serupa perangko yang telah dimuseumkan? Kita lihat saja nanti.

Foto: karyawan Pak Pos (dok. Tempo)

About fachrul khairuddin

View all posts by fachrul khairuddin →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *