Ketika Pahlawan dilantik di Tempat Sampah

Terpujilah wahai Engkau Ibu Bapak Guru

Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir, di dalam hatiku
S’bagai prasasti terimakasihku untuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa

Di Indonesia, lagu hymne guru ini sungguh adalah puja puji yang menyejukkan, penuh warna, pembuai kenangan hangat bagi siapapun yang pernah merasakan bangku sekolah. Lagu yang tidak akan pernah terlupakan. Terlepas dari berbagai kontraversi, lagu itu mengabadikan status guru yang mulia, di mana hidupnya hanya diabdikan untuk sebuah bakti yang bahkan tidak dipahaminya sendiri.

Dalam sejarah peradaban manusia,  pekerjaan guru adalah pekerjaan yang paling tua. Guru sudah ada sejak manusia mampu berpikir dan mengenal ilmu pengetahuan. Sepanjang sejarah kehidupan, guru selalu berada di tengah masyarakatnya, menyisihkan waktu mengajarkan ilmu pengetahuan untuk membuat manusia bisa memahami kehidupan dan menunjukkan kebenaran.

Pada masa kerajaan Hindu-Budha, guru ditempatkan dalam kasta tertinggi yang disebut kasta Brahmana, mengajarkan segala hal yang berhubungan dengan agama serta kitab suci. Guru adalah posisi yang terhormat, bahkan lebih tinggi dari raja dan bangsawan. Ia lebih mulia dibandingkan kasta yang lain. Sampai saat ini, guru tetap memiliki kharismanya sendiri. Di manapun itu.

Ketika Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto melantik ratusan kepala sekolah di tempat pembuangan sampah kota pada 30 Maret 2016. Status guru yang dimuliakan seperti dijerembabkan ke lubang tinja. Pelantikan kepala sekolah di pusat pembuangan sampah akhir kota Makassar ini merupakan yang pertama kali dalam sejarah. Iya, pertama kali dalam sejarah, seorang pejabat yang walau dengan alasan apapun, telah menunggangi kemuliaan status para pengabdi itu untuk mendongkrak sensasi pencitraannya.

Danny, sapaan akrab walikota Makassar ini, beralasan, ia ingin memberikan pesan kepada kepala sekolah (sebenarnya untuk masyarakat) bahwa yang dilantik agar mengedepankan pendidikan membentuk perilaku tentang menjaga kebersihan ini yang harus dibentuk lewat pendidikan. Di samping itu, walikota ini ingin memberikan pesan kepada semua kepala sekolah yang dilantik dengan makna filosofis sampah untuk mengibaratkan anak-anak yang dididik dengan metode yang salah. maka jadilah, sambil menahan nafas, ia pun melantik ratusan kepala sekolah yang sedari pagi tenggelam dalam kebingungannya di tengah sampah yang menggunung.

Pada dasarnya, pola “nyentrik” yang ingin dianalogikan oleh walikota Makassar ini sebenarnya adalah model pendidikan karakter. Ia terkesan memaksakan analogi itu sementara spesifikasi pendidikan psikologi tidak ada dalam kurikulum sekolah, itu adalah pendidikan karakter, konsep psikologi sosial yang semestinya didapatkan dalam bidang akademik tertentu. Jikapun maksudnya memotivasi konsep Pendidikan lingkungan, tanpa dilingkungan sekolah pun, model itu bisa diterapkan.

Di sekolah, para kepala sekolah itu adalah pemimpin , membangun semangat para guru dan anak anak bangsa untuk belajar mengabdi. Apakah pelantikan di pembuangan sampah yang menggunung itu adalah sebuah bentuk motivasi? Aroma busuk sampah yang menusuk, jelas adalah penutup akal sehat yang sempurna.

Kejadian unik ini pun dicerna masyarakat sebagai pertunjukan “pencitraan” seorang pejabat untuk sekedar merebut perhatian. Itulah yang dicerna. Sebagian besar warga kota Makassar belum melangkah ke fase “psikologi dinamis” yang diperkirakan oleh walikota Makassar ini. Mereka hanya melihat sebuah kebodohan dalam level kacamata mereka.

Sementara dari kacamata akademisi, substansi dan arah pendidikan ala walikota Makassar yang dimulai ditempat kotor itu terkesan norak dan “over”. Walikota ini lupa, bahwa pendidikan (terutama di Indonesia) tidak pernah lahir dan dimulai di tempat yang kotor dan bersampah. Pendidikan hadir dalam bingkai damai dan tenang yang penuh nuansa makna yang mendidik. Asumsinya terlanjur men”judge” bahwa sumber kesalahan manusia di Indonesia adalah kekeliruan dari para pendidik. Sekali lagi ia lupa, apakah ia menjadi walikota lantaran hasil didikan yang ber-analogikan sampah?

Ini jelas gaya modern dalam perkembangan sistem perpolitikan yang sarat estetika narsis. Bukankah manusia Indonesia sudah mulai melek? sudah mulai paham bahwa perebutan pencitraan yang sensasional itu adalah melalui ide-ide yang gila? Mungkin jika ide-ide gila itu tidak abstrak dan dilakukan dengan cara yang elegan, pasti akan menuai pujian. Lihat, gaya walikota Bandung, Ridwan kamil yang sukses menata kota Bandung dengan ekspresi cintanya yang unik. Kotanya bersih tanpa harus bereksperimen dengan sensasi politik.

(Surya Cahyadithama)

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *