Grace yang Melawan Kebiasaan

KABARKAMi –  “Kok kamu jadi wartawan, kenapa ndak buka toko saja,” kata seorang wartawan senior kepada Grace Natalia. Kalimat yang wajar mengingat perempuan kelahiran 4 Juli 1982 itu memang keturunan Tionghoa. Masa kecilnya pun hanya dilalui bergaul dengan orang-orang Tionghoa, di sekolah maupun di gereja.

Pergaulan Grace mulai terbuka sejak dia berkuliah akuntansi di Institut Bisnis dan Informatika Indonesia. Lebih terbuka lagi sejak dia menjadi wartawan dari 2004 hingga 2012. Dia banyak bertemu orang-orang ragam etnis, profesi, dan karakter di lapangan.

Berhenti jadi wartawan, istri Kevin dan ibunda Kenzo dan Kael itu terjun ke dunia politik. Langkah yang ditempuhnya pun cukup cepat: dari memimpin perusahaan konsultan politik, dia kemudian mendirikan partai politik. Dia pun menjadi wanita Tionghoa pertama di Indonesia yang menjadi pimpinan partai.

Melalui partainya, Grace ‘tak muluk-muluk. Dia cuma ingin melawan banyak kebiasaan: kebiasaan politik orang Indonesia yang selalu menjadikan politik uang sebagai senjata; kebiasaan masyarakat Tionghoa yang cuma aktif dagang dan bisnis, tidak pernah aktif berpolitik; kebiasaan generasi muda yang cuma jago mengritik, tanpa mau terlibat dan masuk dalam barisan perubahan, dan ragam kebiasaan lainnya.

Apakah Grace mampu menawan ke depannya? Kita lihat saja kiprahnya!

Data: dirangkum dari pelbagai sumber; foto: merdeka.com

About fachrul khairuddin

View all posts by fachrul khairuddin →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *