Sisi dibalik Mewahnya Puskesmas Bantu desa Lakkang Makassar

KABARKAMI. Puskesmas Bantu (pustu) yang berdiri di desa Wisata Lakkang kota Makassar ini sudah ada sejak tahun 2016 dan menghabiskan anggaran APBD sejumlah 1,6 milyar rupiah. Tampak dari luar, bangunan Pustu Lakkang terkesan cukup mewah untuk ukuran sebuah Puskesmas bantu kecamatan. Model arsitekturnya minimalis dengan pekarangan yang luas dan lapang.

Namun dibalik bangunan pustu yang menarik itu, warga desa Lakkang malah mengeluhkan pelayanan kesehatan yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dokter dan tenaga kerja kesehatan yang ditempatkan di Pustu pun tidak sepenuhnya melayani. Mereka hanya datang sekenanya sehingga Pustu seringkali ditemukan dalam keadaan kosong.

Kendati bangunan pustu Lakkang terbilang cukup mewah, berbanding terbalik dengan sarana dan fasilitasnya yang tidak layak. Beberapa ruangan diisi dengan interior ranjang besi dan rak yang entah sudah berapa kali di cat ulang. Malah ada ruangan yang menggunakan ranjang kayu dengan kondisi kaki-kaki yang sudah dimakan keropos. Menurut lurah desa Lakkang, Muhammad Zuudarman, ranjang besi dan kayu serta meja dalam ruangan itu peninggalan jaman walikota Muhammad Daeng Patompo, walikota Makassar tahun 70-an. Selain persoalan pelayanan kesehatan yang tidak layak, kelengkapan fasilitas Pustu Lakkang jelas sudah lama terabaikan oleh dinas terkait.

“Banyak warga Lakkang mengeluhkan fasilitas puskemas bantu ini karena tidak bermanfaat. Jika ada warga sakit yang perlu rawat mendadak, mereka tetap harus ke kota, terutama bagi perempuan yang mau melahirkan,” terang Zuudarman. “Jarak kota dari desa Lakkang tidak jauh namun merepotkan karena warga harus menyeberang sungai untuk menuju kota,”.

Kepala Bidan, Kalsum, mengakui masalah kehadiran staf di Pustu ini memang sudah menjadi persoalan sejak Pustu didirikan. “Saat ini hanya ada dua orang bidan yang melayani, itu pun jika mereka kebetulan hadir. Mereka tidak pernah bekerja maksimal karena ingin cepat-cepat keluar dari Pustu ini. Mungkin karena bukan warga desa ini, jadi mereka bosan disini,” terang Kalsum sambil tersenyum kecut.

Direktur Pelayanan Medik dan Perawatan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unhas, dr. Idar Mappangara saat berkunjung ke Pustu Lakkang menyayangkan tidak adanya perhatian khusus dengan kondisi pelayanan kesehatan di desa Lakkang. Ia sempat mengamati semua fasilitas puskesmas dan berdiskusi dengan lurah mengenai potensi pustu. Program yang menjadi perhatian dr. Idar adalah bagaimana mengaktifkan Pustu dengan berbagai kegiatan internal. Salah satunya adalah memberdayakan kembali program “Homecare”, sebuah program kesehatan Pemkot Makassar dimana dokter keluarga bisa bersentuhan langsung dengan warga.

“Sistem pelayanan kesehatan di Puskesmas bantu ini seharusnya dibijaki dengan mempertimbangkan tofografi desa Lakkang yang kawasannya dikelilingi sungai. Warga yang dirujuk ke puskesmas induk di kecamatan Tallo tentu akan kesulitan menempuh jarak, apalagi dalam kondisi “urgen” dan butuh pelayanan cepat,” ujar dr. Idar.

Setelah mempelajari situasi di Pustu Lakkang, dr. Idar menyarankan agar lurah desa Lakkang melayangkan surat ke dinas Kesehatan kota makassar agar sistem pelayanan kesehatan di desa Lakkang bisa dipertimbangkan untuk menentukan kebijakan sesuai kondisinya.

“Jarak desa Lakkang ini kan lebih dekat ke RS Pendidikan Unhas dibanding ke puskesmas induknya di kecamatan Tallo. Bisa saja kita menentukan kebijakan khusus untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan warga langsung ke rumah sakit tersebut,” ujar dr. Idar.

“Perlu diketahui, bahwa desa Lakkang merupakan salah satu sarana Unhas untuk program riset dan penelitian di Makassar. Sudah lama desa ini menjadi desa terapan penelitian Unhas, maka tentu menjadi kewajiban kita untuk memperhatikan kelayakannya,” pungkasnya.

, , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *