Potensi Tambak Jutaan Hektar dibenami Limbah Puluhan Tahun

KABARKAMI. Foto tambak dalam artikel ini, menampakkan salah satu bidang tambak yang berbeda dengan tambak sekelilingnya. Tampak permukaan airnya kelihatan hijau kebiruan dengan penyebaran lumut yang merata. Bagi para pelaku tambak, kondisi itu jelas menandakan adanya pertumbukan plankton yang subur sebagai pakan alami tambak yang sehat.

Penampakan tambak yang ada di wilayah Bontote’ne kabupaten Pangkep ini sudah melalui perlakuan khusus dengan merevitalisasi kandungan mineral tanah dengan metode alami tanpa penggunaan pupuk berbahan kimia. Efeknya tentu saja positif menjamin budidaya tambak bisa menghasilkan produksi bebas bahan kimia yang berkualitas tinggi.

Klik untuk melihat foto detail :

https://fotosulawesi.blogspot.com/2018/08/foto-tambak-sehat-diantara-tambak-yang.html?m=1

Sejak 2016, pemerintah sudah mewacanakan pendekatan dan isu bagi pembangunan tambak budidaya yang lestari dan bertanggungjawab. Program tersebut digulirkan setelah 1 dekade produksi udang di tanah air menurun drastis akibat dari kesalahan pengelolaan. 

Dilansir di situs bisnis.com, persoalan besar dalam pengembangan budidaya udang dan ikan di kawasan tambak adalah penuruan kualitas lingkungan yang memicu kemunculan hama dan penyakit bagi ikan dan udang. Selain dipicu oleh kondisi infrastruktur tambak yang buruk.

Data KKP menunjukkan potensi indikatif lahan budidaya air payau di Indonesia mencapai 2,9 juta hektare dengan total pemanfaatan hingga 2015 hanya 715.846 ha atau baru sekitar 24,1%. Dari data luas lahan yang dimanfaatkan, tambak tradisional masih mendominasi dengan tingkat pemanfaatan lebih dari 60% dari total lahan termanfaatkan. Tambak tradisional inilah yang butuh penataan khusus karena cenderung memiliki infrastruktur buruk dan tata letak yang tidak beraturan.

Secara nasional, volume produksi budidaya air payau 2015 tercatat 615.871 ton untuk udang, rumput laut gracilaria sp 1,1 juta ton, dan ikan bandeng 672.196 ton.

Revitalisasi kawasan perikanan budidaya adalah salah satu prioritas KKP 2017. Namun aplikasi programnya sampai saat ini masih sebatas merehabilitasi infrastruktur dan penataan ruang yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2012. Metode produksinya lebih kepada peningkatan hasil. Dalam rentang waktu tersebut, targetnya belum signifikan menyentuh standar revitalisasi sanitasi lingkungan, apalagi kualitas kesehatan produksi. Selama penggunaan pupuk berbahan kimia masih tetap digunakan dalam proses pengolahan tambak, maka kualitas tanah akan semakin tercemar. Akibatnya, apapun yang hidup diatasnya akan terpapar kontaminasi kimiawi.

Tradisi penggunaan pupuk dan pakan rekayasa kimia secara kontiniu adalah faktor utama memburuknya kualitas hasil panen budi daya dari tahun ke tahun. Kondisi lingkungan makin rusak parah. Hasilnya dinilai tidak lagi memenuhi standar pangan sehat. Tidak heran jika hasil budi daya tambak di Indonesia sudah tidak layak ekspor. Kondisi tersebut sejalan dengan munculnya persoalan lingkungan akibat pembukaan lahan secara besar-besaran diberbagai wilayah. Lingkungan tanah yang tercemar limbah yang muncul dari berbagai aspek semakin tidak terkontrol menyisakan tambak non produktif. Lahan-lahan kritis pun bertebaran di tengah memburuknya produksi budi daya.

Sampai saat ini, belum ada program yang dianggap mampu memecahkan masalah pertambakan nasional, khususnya perbaikan kondisi lingkungan yang ideal. Padahal pemerintah sudah melibatkan berbagai lembaga riset untuk menemukan solusinya.

Potensi profit tambak dikalkulasikan mampu menghasilkan pendapatan negara hingga ribuan triliun. Dari situ, pemerintah berusaha mengupayakan berbagai metode untuk menemukan solusinya. Salah satunya adalah revitalisasi lahan kritis untuk mengembalikan sistem alami tambak. Ironisnya, penerapan metodenya masih tetap mengandalkan penggunaan bahan-bahan kimia yang saat ini dibalut dengan dalih bahan organik. Lahan-lahan baru tetap dibuka. Anehnya itu disebut revitalisasi.

Apakah metode yang diterapkan pemerintah dalam program tersebut sudah menunjukan perubahan? Rasa-rasanya belum. Sampai sekarang, tambak Indonesia masih dalam kondisi “mati segan, hidup tak mampu”.¬†Jalannya cuma satu yaitu kembalikan fungsi tanah sesuai kodrat alaminya.

Sumber foto : Yayasan Untuk Indonesia Hijau (UIH)

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *