Pembantaian Kima Raksasa kembali terjadi di Sulawesi Tenggara

KABARKAMI. Sekitar 200 ekor kima jenis species Squamosa (Kima Sisik), Hippopus Porcellanus (Kima China) dan kandidat kima species baru dunia yaitu Kima Boe (Kima Air) baru-baru ini ditemukan dalam transaksi ilegal di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Ratusan biota langka yang dilindungi itu siap diantar ke pasar Tinobu Konut untuk diperjual belikan di pasar.

Pasar Tradisional Tinobu dan beberapa pasar ikan lainnya termasuk di Pelelangan ikan Kota Kendari masih kerap memperjual belikan biota laut yang sangat dilindungi ini. Ironisnya, sekian lama kondisi ini terjadi, tidak ada satu pun pihak yang mau peduli termasuk instansi pemerintah antara lain Kelautan, BKSDA, POLAIRUT serta institusi terkait lainnya untuk melakukan tindakan hukum.

Upaya perlindungan biota langka di laut telah dilakukan pemerintah, diantaranya adalah dengan menerbitkan berbagai aturan yang membatasi pemanfaatan organisme yang ada dan hidup di perairan Indonesia. Berbagai aturan yang diterbitkan diantaranya adalah Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978 Tentang : Convention On International Trade In Endangered Species Of Wild Fauna And Flora” serta Peraturan Pemerintah RepublikIndonesia No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Minimnya pengawasan serta sosialisasi peraturan oleh pemerintah setempat di perairan Sulawesi Tenggara adalah alasan kenapa pembantaian biota langka seperti Kima raksasa ini masih tetap berlangsung sampai sekarang.

Beruntung saja, lembaga konservasi swadaya lokal yang berada di Labengki yakni Toli-toli Labengki Giant Clam Concervation masih sempat menyelamatkan ratusan biota langka yang akan dibantai itu.

Tim konservasi Toli-toli Labengki Giant Clam Concervation yang intens mengawal populasi Kima raksasa di Konawe Utara ini masih terus berharap kejadian eksploitasi biota langka tidak terjadi lagi di perairan Sulawesi Tenggara. Kejadian ini seharusnya bisa menjadi evaluasi bagi institusi terkait untuk berkenan turun lapangan dan melakukan tindakan penyelamatan melalui sosialisasi yang intensif.

Selain peran pemerintah yang optimal, tim konservasi juga menghimbau masyarakat untuk tidak lagi mengkonsumsi atau sengaja membeli Kima sebab jika tetap mengkonsumsi maka masyarakat nelayan akan tetap mengeksploitasi biota langka ini.

Keberadaan kima raksasa di seluruh perairan Indonesia sudah termasuk spesises yang sangat langka, akibat pembantaian secara besar-besaran selama ini. Kima tidak hanya dilindungi di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Penetapan perlindungan kima tersebut berdasarkan kenyataan bahwa populasi kima di alam sudah sangat menurun. Perburuan kima hanya untuk diambil dagingnya. Cangkangnya dijadikan sebagai hiasan.

Dua di antara spesies kima merupakan yang paling langka di dunia, yakni Tridacna gigas dan Tridacna derasa, sekarang hanya tersisa di perairan Sulawesi hingga Papua.

Sumber : Toli-toli Labengki Giant Clam Concervation.

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *