Sejarah Gelombang Musik Indie

KABARKAMi – Awal 2000-an, musik Indonesia arus utama (mainstream) didominasi band-band yang membawakan lagu cinta: Padi, Dewa, Peterpan, Radja, Ungu, Nidji, Sheila on 7, dan lainnya.

Namun, di sisi tersembunyi, gelombang band independen (indie) yang anti mainstream juga turut berkembang. Memberikan pilihan lain kepada penonton. Sebut saja The Upstair, The Adams, Efek Rumah Kaca, White Shoes & Couples Company, dan lainnya. Mereka berkembang ‘tak lepas dari bantuan media MTV kala itu yang memang mau mengangkat profil mereka.

Bagaimana band indie itu terbentuk dan berkembang? Awalnya, mereka eksis di kampus Institut Kesenian Jakarta di daerah Cikini. Mereka eksis dengan membawakan lagu sendiri dengan ragam genre musik: pop, hardrock, punk, country, dance, dan lainnya. Mereka nongkrong, manggung, dan eksis di kampus.

Selanjutnya, mereka mulai berani manggung di luar. Tepatnya di sebuah kafe bernama BB’s. Penggagasnya adalah seorang perempuan bernama Eunice Nuh. “Waktu itu semua orang tahu bahwa Indie itu dengan berbagai macam genre itu butuh panggung. Mau loe punk, hardcore, mau rock, loe mau psychedelic Rock, mau progressive rock, semua butuh panggung,” Kata Eunice Nuh.

“Yang keren tentang BB’s adalah tempatnya begitu sempit tapi semua orang berusaha untuk masuk dan memang niat menyaksikan band-band yang ada di situ,” kata Aprilia Apsari, vokalis White Shoes & Couples Company.

“Wah gila, kalau di BB’s ya dari orang yang telanjang juga ada dulu lalu yang lagi manggung kepalanya kena monitor, bocor, MC-MC dengan bahasa yang amat sangat kotor,” kata Jimmy Multazam, vokalis The Upstair.

Setelah kampus IKJ dan kafe BB’s, band-band indie mulai terkenal di mana-mana. Mereka mulai manggung ke pelbagai tempat, dalam maupun luar negeri, dari pensi sekolahan sampai festival besar.

Yang menarik, sampai sekarang pun, lagu-lagu mereka tetap mengakar. Disukai para remaja. David Tarigan, pengamat musik indie, memberi komentar, “…tuh lihat, segala sesuatu yang mengakar, seperti yang mereka lakukan, yang jualannya adalah suatu paket besar, itu pasti akan lama, punya long-term gain.”

Sekarang ini, lebih banyak lagi bermunculan band-band indie. Mereka lebih merajai pasaran. sebut saja Payung teduh, Dialog Dini Hari, Tiga Pagi, dan lainnya.

Referensi: Terekam, Dokumentasi Sejarah Musik Indie, oleh Pijaru

About fachrul khairuddin

View all posts by fachrul khairuddin →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *